Horee… jakarta bebas asap rokok

“Merokoknya sendiri, matinya ramai-ramai.” 

Itulah kira-kira bunyi iklan yang antara lain ada di bus Transjakarta. Tapi iklan itu dianggap angin lalu. Maka 11 Desember lalu Koalisi Masyarakat Anti Asap Rokok menemui Wakil Gubernur DKI Jakarta.

Koalisi menagih janji Pemprov DKI Jakarta untuk membebaskan Jakarta dari asap rokok. Maksudnya, agar kegiatan merokok di Jakarta hanya ada di tempat-tempat yang sudah ditentukan.

Kabarnya Wakil Gubernur Basuki berjanji akan melaksanakan Perda. Bahkan ia pun tak akan bersedia bekerja sama dengan perusahaan rokok, kalau perusahaan itu menuntut imbaljasa pemasangan iklan.

Sebenarnya sudah 2005, tujuh tahun lalu, di zaman Gubernur Fauzi Bowo, ada peraturan daerah tentang kawasan khusus merokok. Tapi penegakan peraturan sangat lemah. Maka asap rokok masih ada di seantero Jakarta. Dari ruang publik (di taman-taman, di kendaraan umum, di stasiun kereta apai dll) sampai perkantoran swasta.

Padahal, YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) pernah melakukan survei dan kesimpulannya, 90 persen responden yang terdiri dari perokok dan yang tak merokok setuju ada ruang bebas rokok.

Tampaknya masyarakat Jakarta kebanyakan kurang peduli soal asap rokok. Dari survei Swisscontact Indonesia bisa disimpulkan bahwa “tingkat ketaatan warga Jakarta tentang regulasi asap rokok masih rendah.”

Buktinya, dari 50.000 kawasan bebas rokok baru 15.000 yang boleh dikata benar-benar bebas asap rokok.

Menurut survei lembaga internasional yang didirikan oleh sektor swasta Swiss ini, yang bertujuan antara lain meningkatkan kualitas hidup warga Jakarta, kawasan yang taat melaksanakan peraturan daerah adalah kawasan rumah sakit.

Hasil survei selengkapnya: 43 persen kawasan pendidikan, 40 persen kantor swasta, 42 persen kantor pemerintah, 44 persen kawasan tempat ibadah, 63 persen kawasan kesehatan 63 persen, dan 0 persen angkutan umum yang bebas rokok. (BB/Jakartanesia) 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *